Tuesday, November 25, 2008

Pupuk kompos




Apa itu kompos?

Kompos atau humus adalah sisa-sisa mahluk hidup yang telah mengalami pelapukan, bentuknya sudah berubah seperti tanah dan tidak berbau. Kompos memiliki kandungan hara NPK yang lengkap meskipun persentasenya kecil. Kompos juga mengandung senyawa-senyawa lain yang sangat bermanfaat bagi tanaman.


Apa manfaat kompos?

Kompos ibarat multivitamin bagi tanah dan tanaman. Kompos memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Kompos akan mengembalikan kesuburan tanah. Tanah keras akan menjadi lebih gembur. Tanah miskin akan menjadi subur. Tanah masam akan menjadi lebih netral. Tanaman yang diberi kompos tumbuh lebih subur dan kualitas panennya lebih baik daripada tanaman tanpa kompos.

Apa saja yang bisa dibuat kompos?

Pada prinsipnya semua bahan yang berasal dari mahluk hidup atau bahan organik dapat dikomposkan. Seresah, daun-daunan, pangkasan rumput, ranting, dan sisa kayu dapat dikomposkan. Kotoran ternak, binatang, bahkan kotoran manusia bisa dikomposkan. Kompos dari kotoran ternak lebih dikenal dengan istilah pupuk kandang. Sisa makanan dan bangkai binatang bisa juga menjadi kompos. Ada bahan yang mudah dikomposkan, ada bahan yang agak mudah, dan ada yang sulit dikomposkan. Sebagian besar bahan organik mudah dikomposkan. Bahan yang agak mudah alias agak sulit dikomposkan antara lain: kayu keras, batang, dan bambu. Bahan yang sulit dikomposkan antara lain adalah kayu-kayu yang sangat keras, tulang, rambut, tanduk, dan bulu binatang.

Mengapa harus dikomposkan terlebih dahulu?

Tanaman tidak dapat menyerap hara dari bahan organik yang masih mentah, apapun bentuk dan asalnya. Kotoran ternak yang masih segar tidak bisa diserap haranya oleh tanaman. Apalagi sisa tanaman yang masih segar bugar juga tidak dapat diserap haranya oleh tanaman. Kompos yang ‘setengah matang’ juga tidak baik untuk tanaman. Bahan organik harus dikomposkan sampai ‘matang’ agar bisa diserap haranya oleh tanaman. Prinsipnya adalah tanaman menyerap hara dari tanah, oleh karena itu harus dikembalikan menjadi tanah dan diberikan ke tanah lagi.

Bagaimana cara membuat kompos yang cepat, mudah, dan murah?

Membuat kompos sangat mudah. Secara alami bahan organik akan mengalami pelapukan menjadi kompos, tetapi waktunya lama antara setengah sampai satu tahun tergantung bahan dan kondisinya. Agar proses pengomposan dapat berlangsung lebih cepat perlu perlakuan tambahan.
Pembuatan kompos dipercepat dengan menambahkan aktivator atau inokulum atau biang kompos. Aktivator ini adalah jasad renik (mikroba) yang bekerja mempercepat pelapukan bahan organik menjadi kompos. Bahan organik yang lunak dan ukurannya cukup kecil dapat dikomposkan tanpa harus dilakukan pencacahan. Tetapi bahan organik yang besar dan keras, sebaiknya dicacah terlebih dahulu. Aktivator kompos harus dicampur merata ke seluruh bahan organik agar proses pengomposan berlangsung lebih baik dan cepat.
Bahan yang akan dibuat kompos juga harus cukup mengandung air. Air ini sangat dibutuhkan untuk kehidupan jasad renik di dalam aktivator kompos. Bahan yang kering lebih sulit dikomposkan. Akan tetapi kandungan air yang terlalu banyak juga akan menghambat proses pengomposan. Jadi basahnya harus cukup. Bahan juga harus cukup mengandung udara. Seperti halnya air, udara dibutuhkan untuk kehidupan jasad renik aktivator kompos.
Untuk melindungi kompos dari lingkungan luar yang buruk, kompos perlu ditutup. Penutupan ini bertujuan untuk melindungi bahan/jasad renik dari air hujan, cahaya matahari, penguapan, dan perubahan suhu.
Bahan didiamkan selama beberapa waktu hingga kompos matang. Lama waktu yang dibutuhkan antara 2 minggu sampai 6 minggu tergantung dari bahan yang dikomposkan. Bahan-bahan yang lunak dapat dikomposkan dalam waktu yang singkat, 2 – 3 minggu. Bahan-bahan yang keras membutuhkan waktu antara 4 – 6 minggu. Ciri kompos yang sudah matang adalah bentuknya sudah berubah menjadi lebih lunak, warnanya coklat kehitaman, tidak berbau menyengat, dan mudah dihancurkan/remah.

Bagaiman cara penggunaan kompos?

Kompos yang sudah matang dapat langsung digunakan untuk tanaman. Tidak ada batasan baku berapa dosis kompos yang diberikan untuk tanaman. Secara umum lebih banyak kompos memberikan hasil yang lebih baik. Tetapi jika kompos akan digunakan untuk pembibitan atau untuk tanaman di dalam pot/polybag, kompos harus dicampur tanah dengan perbandingan satu bagian kompos : tiga bagian tanah.
Kompos dapat diberikan sebagai satu-satunya sumber hara tambahan atau lebih dikenal dengan istilah pertanian organik. Kompos yang diberikan sebaiknya dalam jumlah yang cukup, agar tanaman dapat tumbuh lebih baik. Kompos juga bisa diberikan bersama-sama dengan pupuk kimia buatan. Pupuk kimia dapat dikurangi sebagian dan digantikan dengan penambahan kompos.
Kompos dapat diberikan ke tanaman apa saja, mulai dari tanaman pertanian, holtikultura, perkebunan, tanaman hias, buah-buahan, sayuran, dan kehutanan. Misalnya untuk tanaman: padi sawah, padi gogo, jagung, ketela pohon, kacang, kol, kentang, karet, kopi, sawit, kakao, tebu, aglonema, gelombang cinta, mangga, akasia, dan lain-lain.

Makan enak memang selalu menyenangkan. Memanjakan lidah dengan berbagai rasa yang kaya dan luar biasa. Menikmati setiap kecap makanan yang masuk ke mulut kita.

Namun, seribu sayang, dorongan untuk memanjakan lidah ini seringkali tidak dibarengi dengan pemahaman menyeluruh tentang limbah yang dihasilkan. Kita seringkali tidak peduli tentang sampah organik yang dihasilkan oleh sisa bahan masakan atau makanan yang kita konsumsi. Dengan acuhnya kita menggabungkan sampah basah dan kering. Dan kita menutup mata dari apa yang selanjutnya terjadi di luar rumah kita.

Kita cenderung abai dan tidak peduli terhadap apa yang terjadi dengan limbah rumah tangga yang kita hasilkan. Saya pernah lihat di Bandung, sampah menumpuk tinggi, membusuk, dan menebarkan bau yang tidak sedap. Semata-mata karena banyak pihak, rumah tangga, pemerintah, masyarakat, tidak peduli terhadap masalah persampahan ini.

Jujur saja, kepedulian saya terhadap pemilahan sampah mulai tumbuh ketika saya menjadi konsultan humas untuk Unilever. Saat itu saya bekerja di sebuah perusahaan konsultan hubungan masyarakat, Maverick, dan dipercaya untuk menangai komunikasi publik dari beberapa program tanggung jawab sosial Unilever.

Sebagai bagian dari program CSR-nya, Unilever memberdayakan masyarakat untuk beralih ke teknologi pengolahan sampah domestik secara sederhana.

Nah, berbekal dari pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman mereka di Desa Jambangan, Surabaya, saya mengembangkan teknologi sederhana pembuatan kompos melalui pengolahan sampah rumah tangga di rumah saya.

Pasalnya, selain untuk mendorong gaya hidup hijau, saya juga selalu dipusingkan oleh sampah yang menumpuk di depan rumah menunggu diambil oleh tukang sampah yang sering wanprestasi. Tumpukan daun-daun kering yang membusuk dan sampah rumah tangga yang menimbulkan bau yang tidak sedap sungguh benar-benar menggangu hidup saya.

Sebagai awal, saya mulai memisahkan semua sampah organik dan sampah non-organik di rumah. Sampah organik dikumpulkan dalam satu tempat tersendiri. Kemudian dikumpulkan dalam wadah pembuat kompos.

Ketika sampah organik sudah penuh terkumpul dalam wadah ini, saya menuangkan larutan fermentasi yang terdiri dari larutan EM4 untuk tanaman, air, dan gula pasir.

Satu minggu kemudian, jadilah kompos yang siap untuk dipakai. Kompos ini bisa segera ditebar untuk menyuburkan tanaman di kebun.

Volume sampah rumah tangga yang tidak terolah menurun drastis. Bak sampah di depan rumah saya hanya terisi oleh sampah-sampah non-organik dalam jumlah terbatas, seperti plastik dan kardus yang dalam sekejap sudah diambil oleh pemulung untuk dijual kembali.

Pernah satu kali saya lihat wajah pemulung yang berseri-seri mengambil satu kantong plastik penuh dengan sampah non-organik di depan rumah saya. “Kalo gini kan enak, soalnya saya nggak perlu lagi nyuci ama ngejemur plastik yang bau busuk karena kecampur sampah”, ujarnya.

No comments: